Tampilkan postingan dengan label cerita. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cerita. Tampilkan semua postingan

Kamis, 08 Agustus 2013

Ramadhan 1434H - Day 30 vs. Idul Fitri 1434H


Berlebaran di Spanyol
Seville

Mungkin ada perbedaan waktu lebaran di Indonesia dan disini, Spanyol. Beberapa negara masih melaksanakan shaum Ramadhan hari ke-30. Tetapi, kami di Spanyol sudah berlebaran hari ini.

Yep, memang kala lebaran, kami sedang berwisata summer di Selatan Spanyol. Kami mengunjungi 3 kota, Seville, Cordoba dan Granada. Seru sekali perjalanan kami disini. 

Cordoba
Tidak seperti perjalanan di kota-kota Eropa lainnya, kami melihar banyak sekali tempat-tempat bersejarah dimana terdapat campuran kultur antara kebudayaan Islam dan Kristen di dalamnya. Memang, dahulu kala, kerajaan Ottoman (dari Turki) memiliki kekuasaan sampai ke selatan Eropa. Disamping itu, letak Selatan Spanyol juga dekat dengan Morocco. Alhasil, kental sekali rasa Islam disini. 

Ada gereja yang direbut oleh tentara Islam, kemudian dijadikan mesjid. Eh, lalu diganti jadi gereja lagi kala direbut kembali oleh orang-orang Kristen kala itu. Ada juga mesjid megah yang dibangun oleh kerajaan islam Ottoman, kemudian direbut oleh orang Kristen dan diganti kegunaannya sebagai gereja. Ada juga istana kerajaan Islam yang masih dipelihara sampai-sampai ukiran-ukiran indahnya masih sangat baik kondisinya. Banyak juga kutemukan relik-relik kaligrafi di ketiga kota yang kukunjungi. 

Granada
Dalam perjalanan kami, beberapa kali kami bertemu dengan sesama muslim. Di salah satu kota, kami mendapat penawaran dari seorang bapak-bapak muslim yang memberikan jasa tur tentang Islam di kota tersebut. Kami sempat berbincang-bincang dengannya. Tentang kami dari Indonesia, tentang Ramadhan. Sebelum berpisah, sempat juga kami mengucapkan "Eid Mubarak". Ceria sekali penampakan wajahnya kala itu. Subhanallah. 

Ah, Indah sekali berlebaran disini. Walau tidak ada ketupat ataupun kue lebaran, kami tetap bahagia, honeymoon, wisata, sambil berlebaran bersama. Gak kapok deh shaum dan lebaran sambil jalan-jalan. 

Untuk semua pembaca, kapanpun lebarannya, maaf lahir bathin ya! Semoga kita bisa bertemu dengan Ramadhan tahun depan :)

Rabu, 07 Agustus 2013

Ramadhan 1434 H - Day 29

Empat puluh derajat Celcius di siang hari. Panasnya.

Pas banget deh, pas jalan-jalan di Spanyol Selatan, pas di musim panas, pas panas-panasnya suhu. Temperatur sore hari bisa mencapai 40 derajat loh. Ruarrr biasa. Semoga besok sudah lebaran :) haha

Selasa, 06 Agustus 2013

Ramadhan 1434H - Day 28

Jepretan bunga teratai yang kuambil saat mengunjungi Sintra, Portugal.

Bunga teratai di Sintra, Portugal

Hari kedua di Portugal ini, kami menghabiskan waktu mengunjungi Sintra, sebuah kota di perbukitan yang terletak cukup dekat dengan Lisbon. Untuk mencapainya, kami menempuh 30 menit perjalanan dengan kereta.

Sesampainya disana, aku menemukan bunga-bunga teratai di sebuah kolam. Langsung saja, jepret, jepret, jepret! Memang fotografi adalah salah satu hobiku. Walau jeprat-jepret ini dilakukan dengan lensa zoom Nikon 18-200 seadanya, dan kamera SLR Nikon D-3100 tak terlalu canggih (dibanding kamera-kamera yang lebih mahal lainnya).

Saat menulis cerita ini, entah kenapa aku teringat cerita si kera sakti. Haha, itu acara favorit ku dulu waktu kecil. Anyway, ceritanya makin random. Tapi cukup excited juga karena lebaran sebentar lagi :D 

Senin, 05 Agustus 2013

Ramadhan 1434H - Day 27

Menu ta'jil: Bubur nasi manis dengan taburan kayu manis dan milk-choco mouse dengan taburan kacang sangrai. Berbukalah dengan yang manis katanya :p

Menu utama kali ini adalah
ikan-ikan khas Lisbon:
Ikan sarden bakar dan ikan cod putih.











Ber-iftar di Lisbon, Portugal 

Dua hari yang lalu, yayang tiba di bandara Schiphol, Amsterdam. Hari ini, langsung tancap kami memulai wisata kami ke daerah selatan benua Eropa. Kota pertama yang kami kunjungi adalah Lisbon, Portugal.

Setelah terbang dari Belanda selama hampir 2 jam, tiba juga kami di Lisbon dikala matahari diatas kepala. Langsung kami mulai wisata di kota yang banyak tanjakan dan turunan itu. Tetap semangat walau puasa dan panas-panas deh.

Kala waktu berbuka hampir tiba, kami langsung menclok di restoran dengan di jalanan portugal. Pemandangan yang ditawarkan adalah sebuah menara terkenal di Lisbon (entah apa namanya). Tadinya kami mau naik kesana. Tetapi karena harus ngantri panjang, bayar, dan lapar, kami memutuskan untuk lebih baik mencari tempat makan enak untuk berbuka puasa.

Di restoran tempat kami makan, mereka menawarkan beragam makanan khas portugal dalam menunya. Pilihan hati kami jatuh pada ikan sarden bakar dan ikan cod putih panggang. Untuk ta'jil kami memilih bubur nasi + kayu manis dan krim susu + cokelat putih. Enak sekali. Oia, kami juga pesan Mix-juice, jus yang gak tau isinya apa saja. Rasanya ya seperti rujak di jus, hanya tidak pedas saja.

Seru sekali acara kami berbuka di Lisbon. Kebetulan sekali, pramusaji di restoran kami berasal dari Bangladesh. Si pemuda Bangladesh ini menyapa kami dengan salam kala kami pertama datang. Terlepas dari apakah ia memang mengucapkan salam karena kami sesama muslim, atau karena ia ingin memberikan pelayanan prima, kami tetap merasa senang karenanya.

Kala menyampaikan pesanan kami, langsung saja kami minta agar dessert didahulukan. Karena kami ingin berbuka puasa dengan makanan manis, begitu kami menjelaskan padanya. Sang pramusaji kemudian tersenyum dan berkata, "Tentu saja. Saya akan segera sajikan untuk anda."

Sebelum pulang ke hotel tempat kami menginap, kami menyempatkan diri memberli penganan khas Portugal. Untuk bekal makan sahur nanti malam, itu pikir kami.

Ah, indahnya pengalaman berbuka puasa di Lisbon.

Toko kue lokal di Lison, enak-enakkkkk :D



Minggu, 04 Agustus 2013

Ramadhan 1434H - Day 26

Screenshot dari email yang kuterima kala paper pertamaku akan diterbitkan di journal international ternama.

Hari ini, kuterima surat cinta dari salah satu jurnal internasional ternama di bidangku. Memang, untuk bisa mendapatkan diploma doktorku, aku diharusnya memiliki 3 paper yang diterbitkan di jurnal internasional. 

Alhamdulillah, sedikit lagi, dan paper ini akan terbit. Senangnya. Sepertiga jalan sudah terbuka agar aku bisa menyelesaikan studiku disini :)

Sabtu, 03 Agustus 2013

Ramadhan 1434 H - Day 25

Snapshots dari "eating group" kami. Canda tawa tak pernah lepas kala kami berkumpul. Walau berbeda bangsa dan kultur, tapi itu tidak menghalangi kekeluargaan yang erat di antara kami. 

Dua setengah tahun sudah kujalani hidup sebagai mahasiswa sekaligus perantau di negeri jauh dari rumah. Disini, banyak kutemui kawan-kawan yang berasal dari berbagai negara. Ada kawan dari Jepang, Romania, India, Iran, Columbia, sampai tetangga dekat dari Filipina pun ada.

Dengan beberapa kawan, yang adalah kawannya kawan-kawan Indonesia ku, kami membangun perkumpulan yang kami namai "eating group" sekarang ini. Eating grup ini bukan satu-satunya grup makan-makan yang kuikuti disini. Ada juga acara pengajian rutin plus-plus (makan-makan). Ada juga acara bulanan yang dikelola oleh international student di kampus yang bertajuk "meet and eat". Sering juga ada acara masak-masak dan makan-makan sesama pelajar Indonesia disini yang biasanya dilakukan secara impuls saja.

Banyak sekali acara makan-makan seperti ini yang kuikuti. Hampir setiap minggu, aku tak makan di rumah. Pasalnya, ada saja acara makan-makan yang harus kuhadiri. Alhamdulillah banyak teman, internasional pula. Sampai-sampai, kawan-kawan kosanku yang kesemuanya adalah cewek-cewek Belanda bilang "mira itu kalau weekend pasti pesta dan makan-makan deh".

Senang sekali ikut acara makan-makan. Kalau acaranya makan-makan dengan kawan-kawan Internasional, aku selalu senang kala berbagi cerita tentang kultur dari negara kawanku berasal. Kalau acara makan-makannya ala Indonesiaan, asyik juga belajar mengenal lebih dekat kultur kawan-kawan yang berasal dari seluruh Nusantara. Disamping makanan yang enak-enak tentunya. 

Jumat, 02 Agustus 2013

Ramadhan 1434 H - Day 24

Snapshot dari acara BuBar & reunian dengan kawan-kawan kelas 3 SMA dulu :)
Foto diambil saat Ramadhan di tahun 2008.

BuBar, Buka Bareng 

Sudah "3x puasa, 3x lebaran" aku tak pulang. Macam bang Toyib aja nih. Jadi kangen banget sama ramainya merayakan Ramadhan di tanah air. Salah satu hal yang dikangenin adalah acara BuBar alias buka bareng.

Yang namanya Ramadhan, dimanapun dan kapanpun, selalu aja diramaikan dengan acara BuBar. Waktu kuliah di kampus ITB, setiap tahunnya diadakan acara BuBar oleh Gamais (Keluarga mahasiswa islam), himpunan, angkatan, sampe BuBar Prodi (program studi).

Acara bubar juga kerap dijadikan ajang reunian. Saat aku kuliah tingkat 2 atau tingkat 3, bulan Ramadhan-ku diramaikan dengan acara bubar & reunian. Mulai dari bubar bareng temen-temen SD, SMP sampe SMA. Ini bukan boong, lho! Seriusan! Asik banget deh!

Saat memasuki kuliah tingkat IV, undangan reunian sekaligus bubar makin berkurang di bulan Ramadhan. Mungkin karena orang-orang sudah semakin sibuk. Aku juga merasa diriku semakin disibukkan dengan urusan kuliah. Beres kuliah, sibuk kerja sana-sini.

Ah, mudah-mudahan bisa reunian dengan teman-teman sekolah dulu lagi. Pasti seru banget deh kalau berbagi cerita dengan mereka. Semoga semua kawan-kawanku selalu dalam lindungan-Nya, dan sukses dalam hidup. Amien!

Kamis, 01 Agustus 2013

Ramadhan 1434 H - Day 23

Tak terasa, kita sudah memasuki bulan Agustus di tahun 2013. Cepat sekali waktu berlalu. Tinggal 5 bulan lagi habis sudah masa studiku disini. Kalau yang lagi di Indonesia sih, mungkin gak berasa pergantian bulannya. Pasti semua orang disana lagi pada sibuk bikin kue lebaran. Duh, jadi iri deh.

Ahh, jadi home-sick deh. Terakhir lebaran di rumah tahun 2010, 3 tahun lalu. Udah jadi neng toyib aja nih ane :p

Ini dia list hal-hal yang bikin kangen lebaran di rumahku:

Bikin ketupat rame-rame. Bikin bukan asal bikin. Tapi nganyam ketupat juga lho. Lumayan kan sambil ngabuburit :D 
Sambal goreng kentang. Duh, ini sih favoritku banget. Bukan cuman pas lebaran aja, pas perayaan apapun di rumah rasanya gak lengkap kalau gak ada sambal goreng. Dengan atau tanpa petai, juga dengan dan tanpa ati, sambal goreng kentang tetap hidangan fave-ku nomor.1. 
Bikin kue lebaran. Duh asik banget deh. Kue cokelat, keju, sagu-keju, dan nastar, ini yang wajib dibikin kalo menjelang lebaran. Biasanya 3 hari sebelum malam takbiran tiba, kami di rumah sudah mulai sibuk buat kue lebaran. 
Cemilan kue lebaran yang manis-manis harus diimbangi dengan yang gurih-gurih dong. Foto diatas adalah foto pastel mini yang berisi abon sapi. Duh, ini sih kalo belum abis setoples, belum berhenti deh nyemilnya. 
Seperti yang udah pernah diceritakan di tulisan terdahulu, beginilah es bul-bul buatan rumahku. Ceria penuh warna kan? Sehabis nyemil-nyemil kue-kue lebaran, terus udah makan ketupat dan sambel goreng kentang, enaknya langsung santap es bul-bul yang seger. Kalo misal abis silaturahmi, jalan-jalan sambil panas-panasan di luar, ngademin badan dan hati pake es bul-bul udah dijamin paling mantap deh :D 

Sekian edisi home-sick dikala lebaran kali ini...

Rabu, 31 Juli 2013

Ramadhan 1434 H - Day 22

"Lebaran sebentar lagi,  berpuasa sekeluarga ... "

Selalu deh terngiang-ngiang lagu ini di bulan Ramadhan. Duh, jadi kangen rumah nih. Kangen bikin kue lebaran bareng sama keluarga. Sambil kangen-kangenan, jadi ingin sedikit merefleksikan diri juga nih. Edisi tulisan kali ini akan membahas tulisan berjudul "The Valley of Shit". Eh bukan mau bersumpah serapah kala puasa lo ya. Memang judul tulisannya begitu sih.



The Valley of S#!T
Beberapa bulan lalu, inbox-ku di e-mail dan facebook diramaikan oleh postingan dan komentar kawan-kawanku tentang suatu artikel di internet yang berjudul "The Valley of Shit". Judul tulisannya memang cukup ekstrim. Tetapi, semua mahasiswa, khususnya yang adalah PhD candidate, pasti bisa nyambung dan mengiyakan isi tulisan ini.

Artikel ini mengulas tentang jurang-jurang yang harus dilewati seorang mahasiswa kala menyelesaikan studinya. Sebagai seorang PhD candidate, aku banyak mengalami pengalaman serupa dengan apa yang dituliskan dalam artikel ini. Pasti ada saja waktu-waktu dimana stress melanda. Stress ini bukanlah stress biasa, tetapi stress yang luar biasa.

Terkadang, stress-nya PhD candidate disebabkan pertanyaan mendasar tentang, "Apaan sih kontribusi nyata dari riset gue ini?". Pertanyaan semacam itu biasanya dibarengi dengan kondisi dikala hasil eksperimen gak menjanjikan atau revisi manuskrip yang gak habis-habis dari sang supervisor.

Cara untuk keluar dari lembah suram begini ya dengan melewatinya. Kalau eksperimen hasilnya jelek, ya coba diterka ulang lagi kira-kira salahnya dimana. Kalau revisi gak beres-beres, komen dari supervisor banyak terus, ya dikerjain papernya. Di akhir nanti, kalau sudah bisa kita keluar dari lembah suram ini, pasti lancar jaya lagi deh kerjaan kita.

Buat semua yang lagi di "valley of shit", yok kita berusaha keluar dari situ. Kalau masuk lagi, ya keluar lagi.

Cheers,
Salam PhD candidate!

Selasa, 30 Juli 2013

Ramadhan 1434 H - Day 21

Tak terasa sudah dua pertiga Ramadhan kita lewati. Tinggal sepuluh hari lagi Ramadhan tahun ini. Mungkin ada banyak dari teman-teman semua yang sudah memulai ibadah itikaf-nya di mesjid ya. Di penghujung 10 hari terakhir Ramadhan ini, mari kita berlomba-lomba dalam kebaikan yuuk :D mumpung usia masih ada.

Di edisi tulisan hari ini, aku mau cerita sedikit tentang mantan pacarku. Secara, hari ini, 30 Juli, bertepatan dengan hari ulang tahunnya.


Kisah sang mantan pacar

Pertama kali, aku bertemu dengannya saat melaksanakan kerja praktek (KP) lapangan di PT. Badak, Bontang, Kalimantan Timur. Dia yang berangkat dari depok dan aku yang berasal dari Bandung bertemu disana pada tanggal 07-07-07. Angka cantik yang mudah diingat.

Sebulan kami lewati bersama di mess asrama untuk pegawai dan intern (mahasiswa KP) PT. Badak. Apartemen Nam-Nam namanya. Rasanya, tidak ada rasa suka terbersit dariku saat kami bersama disana. Bersama teman-teman KP lainnya, kami melewati hari-hari penuh suka duka di asrama. Makan bersama di restoran asrama, sampai berjalan-jalan ke Balikpapan ramai-ramai. BFF lah pokoknya.

Sebulan aku menghabiskan waktu disana bersamanya. Sampai akhirnya aku harus pulang ke Bandung karena masa KP-ku sudah habis. Rupanya, aku membawa oleh-oleh saat pulang ke Bandung. Aku mendapatkan fans baru, dia lah orangnya. Ini kata dia sendiri loh ya, bukan aku yang ke-GR-an. Dia bilang dia mau jadi fans-ku yang no.1.

Komunikasi yang tadinya dilakukan secara langsung antara aku dan dia selama kami bersama di asrama, berubah menjadi komunikasi jarak jauh. Sebulan kami habiskan berkomunikasi antara Bontang dan Bandung. Dua bulan berikutnya, komunikasi berjalan antara Bandung dan Depok. Kala itu dia sudah kembali ke kota belimbingnya, Depok.

Kisah cinta sang mahasiswa teknik metalurgi UI dan teknik fisika ITB ini benar-benar dimulai kala mereka nge-date untuk yang pertama kalinya. Tiga bulan sudah sang mantan itu PDKT secara gencar padaku. Luluh juga aku. Akhirnya kita mulai pacaran secara resmi sejak 5 November 2007. Sekitar 3 tahun kami pacaran, sampai akhirnya harus putus. Sampai akhirnya dia jadi sang mantan pacar.

Rentang waktu pacaran selama 3 tahun itu selalu LDR alias long distance relationship. Antara Bandung dan Depok. Kemudian berubah menjadi Jepang dan Bandung. Kala aku menyelesaikan studi masterku di Bandung, dia mendapatkan tawaran kerja ke Jepang setelah lulus dari UI.

Walau LDR, tapi aku selalu bahagia bersamanya. Kadang-kadang, atau malah seringnya, aku BT karena dia juga sih. Maklum lah, statusnya "in a relationship" tapi gak pernah bisa sang pacar diajak nonton atau makan di luar. Tapi, dia benar-benar sosok yang selalu berusaha ada untukku di masa-masa sulit yang kuhadapi. Dan aku berterima kasih akan itu.

Pada malam hari ulang tahunku, 15 November tahun 2010, dia berkata "Maafkan aku, kau harus menunggu 3 tahun 10 hari ... ". Kutatap wajahnya, wajah sang mantan pacar, dengan penuh syukur dan juga dengan mata berkaca-kaca. Kemudian ia lanjutkan kalimatnya, "... padahal aku berjanji akan menikahimu 3 tahun sejak kita pacaran dulu". Aku tersenyum padanya, kemudian memeluknya. Ada diam yang panjang disitu. Lalu dia berkata, "selamat ulang tahun, istriku".

Senin, 29 Juli 2013

Ramadhan 1434 H - Day 20

Sudah sekitar seminggu ini, news feed FB-ku diramaikan dengan postingan kawan-kawan tentang video youtube yang bertajuk "West and East, cultural differences". Menarik juga kutonton 2 bagian video tersebut. Walau masing-masing video berdurasi sekitar 45 menit, gak sia-sia kutonton mereka sampai habis. Berikut, kubagi link dari video-video tersebut. Kalau punya waktu 1,5 jam, asyik juga nontonnya. Kita bisa mengerti bahwa memang secara kultural orang timur dan orang barat itu berbeda.



Jadi mau buat pengakuan dosa nih. Karena, sambil menonton video ini aku masih di kantor. Tapi jadi seneng, karena bisa sambil berdiskusi dengan teman seruanganku, si Jabrik -- sebenernya rambut dia udah gak jabrik lagi, tapi udah gondrong.

Berikut ini, aku mau menuliskan sedikit refleksiku tentang pengalaman-pengalaman pribadiku, terutama setelah tinggal di negeri asing selama lebih dari 2 tahun. Adapun cerita ini ditulis sambil ngalor-ngidul dan ngantuk menunggu waktu makan sahur. Enjoy!


West and East -- Cultural differences
Antara rendah hati dan rendah diri

Orang timur itu, rasanya paling awkward kalo dipuji. Orang barat, kalau mereka dipuji, langsung bilang terima kasih. Selesai perkara. Kalau orang timur, pasti pake acara mengelak dan mengeles. Berkali-kali aku kebingungan kala dipuji teman bule-ku. Kadang aku sampai penasaran dan bertanya sama mereka, "kalau dipuji, harus bilang apa sih kita?". Semua selalu menjawab, ya bilang aja "terima kasih, gampang kan?". Itu lah, enaknya jadi orang Barat, kalau dipuji, tinggal bilang thank's terus beres deh urusan. Masa bodo kalau pujiannya itu benar-benar pujian atau cuman basa-basi saja.

Masih berhubungan dengan pujian, kayaknya orang timur relatif kebingungan saat dipuji karena memang kultur kita mengajarkan untuk tidak sombong alias rendah hati. Sikap rendah hati ini yang kadang berujung tidak bagus ke rendah diri.

Kala orang barat diajarkan sedari kecil untuk menjadi orang yang mandiri, orang timur dibesarkan untuk menjadi insan sosial. Hal ini juga menyebabkan indikasi keberhasilan orang barat dan timur menjadi berbeda. Orang barat berusaha untuk menjadi mandiri dan sukses dengan menunjukkan kemampuannya secara PD alias percaya diri. Sukses di kultur barat berarti kebahagiaan personal masing-masing orang. Sedangkan sukses di mata kultur ketimuran berarti kebahagiaan perorangan yang diiringi dengan kebahagiaan orang-orang lain di sekitarnya.

Balik lagi ke cerita soal rendah hati dan rendah diri-nya orang timur. Kultur orang timur saat rapat itu, pasti hening pas acara tanya jawab. Kayaknya, pada males ngomong gitu orang-orangnya. Tapi mungkin bukan karena itu saja, lho. Ini juga bisa jadi disebabkan oleh kultur kita yang terbangun seperti itu. Kultur yang mengajarkan "ya mbok kalo ngomong itu yang penting-penting saja". Ini adalah satu perbedaan fundamental antara orang barat dan timur. Di video juga diceritakan kalau pendidikan di kultur barat didasarkan pada "diskusi" dan "debat". Sedang filosofi ketimuran mengajarkan kita kalau "tong kosong nyaring bunyinya".

Eh, gak sampe-sampe deh ke cerita soal rendah hati dan rendah diri.

Pada musim dingin tahun kemarin aku berkesempatan untuk berpartisipasi dalam "ASEAN-EU Year of Science, Technology and Innovation". di Brussels. Disana, ada satu sesi dimana aku dan mahasiswa (PhD dan post-doc) ASEAN yang sedang belajar di Eropa dengan pendanaan EU berdiskusi dengan petinggi-petinggi dari EU board of education. Disana kami diminta untuk bertukar pikiran dengan mereka tentang hal-hal yang bisa dilakukan untuk memajukan riset di kawasan ASEAN.

Kebanyakan dari kami mengeluhkan tentang sulitnya pendanaan atau tidak lengkapnya fasilitas pendukung penelitian di negaranya masing-masing. Pokoknya isinya keluhan dan yang negatif-negatif deh. Hati kecilku jadi tergelitik, "apa masa iya sih cuman karna itu saja kita jadi gak maju-maju risetnya?". Karena aku merasa sedikit prihatin dengan sudut pandang kita yang sempit, langsung saja aku unjuk tangan.

Dengan sedikit gugup di awalnya, aku berkata dengan jelas bahwa ada satu masalah penting yang harus dibenahi di diri peneliti muda ASEAN. Terkadang, kita itu terlalu rendah diri, "inferiority complex" itu kata yang kupakai saat itu. Iya gak sih, terkadang, disamping kesemrawutan fasilitas riset di negara kita, kemampuan kita juga kadang terredam akan ketidak PD-an kita saat dibandingkan dengan kemampuan orang barat misalnya.

Maka dari itu, sudah seharusnya kita belajar PD. Jual-lah diri kita ke orang-orang barat itu. Tunjukkan kemampuan-kemampuan positif kita pada mereka. Tunjukkan kalau kita bisa juga sejajar dengan mereka dalam segala hal. Dengan begitu mereka bisa juga melihat kita dengan sejajar. Saat segelintir orang barat memandang remeh kita orang timur, mungkin itu salah kita lho. Bukan salah mereka yang menganggap kita rendah. Tetapi itu salah kita yang menganggap diri kita sendiri rendah.

Sebagai orang timur, kita bisa melihat sikap "pendiam" kita dalam rapat atau sikap "awkward" saat dipuji sebagai bentuk rendah hati. Tapi, bagi orang barat, mereka terkadang melihat kita sebagai orang yang rendah diri, lho. Makanya, sebagai orang timur, ada baiknya kita lebih "speak up" dan frontal saat mengemukakan pendapat. Yok, sama-sama berlatih mengemukakan pendapat yang sehat!!!

Eh, jangan lupa ditonton videonya kalau sempat. Aku rasa, presentasi dari hasil riset mengenai perbedaan kultur barat dan timur yang digambarkan, asik banget untuk ditonton. Setelah nonton video ini, aku jadi kayak tercerahkan gitu deh. Jadi makin mengerti kalau memang perbedaan kultural antara barat dan timur itu ada. Bukan hanya ada, tapi sangat fundamental. Dari video ini, aku juga bisa makin memahami akan perbedaan kultur yang ada antara kedua belahan sisi dunia ini, dan semakin bisa belajar untuk bertoleransi akan perbedaan yang ada. 

Minggu, 28 Juli 2013

Ramadhan 1434 H - Day 19

Photo from National Geographic website

Cerita tentang badai

Semalam, hujan badai menerpa Nijmegen. Hujan lebat, petir dan kilat membuat langit gelap semakin pekat. Kuterbangun dari tidurku, dan terdiam. Sulit untuk kembali tidur.

Entah sejak kapan, aku jadi takut pada badai. Kalau hujan saja, rasanya aku masih suka. Hujan itu romantis, katanya. Ah, ku melamun malam itu. Berpikir-pikir, apa gerangan yang membuatku takut akan badai.

Badai adalah fenomena alam yang terdiri dari gelapnya langit, hujan lebat, petir dan kilat. Langit gelap dan hujan lebat aku tak takut. Rupanya, si petir dan kilat lah yang kutakuti.

Pikiranku-pun melayang-layang sampai ia hinggap ke memori masa kecilku. Masa dikala aku duduk di bangku sekolah dasar. Disana, si kecil aku memiliki seorang sahabat yang berbadan cukup besar. Sang sahabat takut akan petir. Selalu ia bersembunyi di bawah meja sekolah saat badai menerpa. Aku, sahabatnya lah yang selalu berusaha menenangkannya.

Rupanya, aku tak takut petir saat kecil. Si kecil aku yang pemberani. Pikirku melayang lagi.

Pernah suatu hari aku dikejar petir. Ya, itu dia jawabnya. Kala itu, saat aku seorang mahasiswa yang sedang mengunjungi kota Depok, kota yang terkenal akan petir-petirnya. Pernah satu petir mengejarku dikala badai. Kurasakan ia jatuh hanya beberapa meter di belakangku. Mengerikan. Sejak itulah aku takut akan petir.

Masa musim panas adalah masa badai-badai mampir di Nijmegen, kota tempat tinggalku di Belanda. Sebisa mungkin, aku menghindar keluar dari rumah dikala badai. Takut akan dikejar petir-petir. Bersepeda di kala banyak petir dan kilat menghambar bisa membuat jantungku dag-dig-dug juga.

Memang betul, katanya akan ada langit cerah setelah badai berlangsung. Betul saja. Siang ini, langit cukup terang walau awan masih bergelantung di sana-sini. Kusapa teman sekosanku, kubilang aku tak bisa tidur semalam karena ketakutanku akan petir. Dia bilang, seharusnya kuketuk pintu kamarnya. Dia juga bilang, dia senang akan badai dan petir. Ah, rupanya ada orang seperti itu...

--Ditulis sambil ngaso di sofa pake kostum weekend, baju tidur :D 

Sabtu, 27 Juli 2013

Ramadhan 1434 H - Day 18

Di artikel kali ini, aku mau cerita tentang kesukaanku akan Jepang. Biasanya banyak orang dengan sisnisnya bilang, "kenapa suka Jepang? mereka kan penjajah". Komentar yang sama seperti yang biasanya kudengar kala bercerita tentang senangnya aku kuliah di Belanda.

Yang kusuka dari Jepang itu macem-macem banget. Ya budayanya, ya makanannya. Salah satu hobiku disamping masak dan makan adalah nonton dorama dan anime Jepang. Semasa kuliah dulu, kalau mau nonton dorama biasanya harus "nyedot" dulu dari intranet kampus. Harus nunggu juga ada admin-admin yang berbaik hati mau donlot-in. Sejak tinggal di Belanda, mau nonton apapun tinggal streaming aja deh. Secara internet disini kuenceeenngg banget :D

Berpose sama Noriko-san di salah
satu acara pesta kampus. 


Sejak pergantian tahun 2013 ini, aku punya satu teman baru di Nijmegen, Noriko namanya. Dari namanya aja, pasti udah pada ngeh kalo Noriko ini orang Jepang. Seneng banget deh. Pergi ke Belanda, eh malah punya temen orang Jepang. Sebetulnya aku kenal beberapa orang Jepang lewat koneksi sang "mantan pacar" yang pernah kerja disana. Tapi Noriko ini ya benar-benar teman Jepang-ku yang pertama.

Balik lagi ke sukanya aku sama Jepang. Karena pernah berkesempatan mengunjungi negeri sakura sebanyak 3 kali sampai saat ini, aku bener-bener jadi japanese food noob. Duh, yang namanya makanan autentik Jepang, itu aku super-duper seneng banget. Ya masaknya, ya makannya juga.

Kalau orang cuman mikir "sushi" saja dikala makanan Jepang disebutkan, itu salah besar. Banyak banget makanan-makanan lain yang enak buanget. Aku suka banget miso soup, yasai tempura (tempura sayuran) dan udon (mie yang dicelup-celup ke dipping sauce). Camilan dan dessert ala Jepang juga oke banget. Apapun yang berisi anko / red-bean-paste itu aku suka banget. Mulai dari taiyaki, dango sampai daifuku, moci dan ohagi. Makanan Jepang (yang halal tentunya) tidak pernah gagal menggoyang lidahku.

Menu makanan Jepang semalam,
gyoza, hiyashi cyuka, dan ohagi. 

Balik lagi ke cerita Ramadhan kali ini. Kemarin, aku dan Noriko bersama beberapa teman lainnya (ada Bella dan Euginia juga) memasak masakan Jepang bersama. Asik banget, semaleman masak. Dari jam 7 sampai 10 malam. Berjam-jam masak, terbayar juga laparnya dengan rasa yang oke banget.

Di lain kesempatan, akan kutuliskan cerita tentang makanan-makanan Jepang yang kusuka ya. Mungkin dengan resepnya juga ;)

P.S. Noriko-san nge-blog juga lho. Buat yang bisa baca dan tulis bahasa jepang secara fasih, monggo dilihat blognya disini nih :D 

Rabu, 24 Juli 2013

Ramadhan 1434 H - day 15

Catherine si Caterpillar 


Hari ini adalah hari hari biasa di rumah kami. Waktu menunjukkan pukul 11 malam. Tidak ada kegiatan luar biasa di ruang keluarga. Hanya menonton film yang diputar di TV sambil bercerita tentang kegiatan hari ini. Sanne baru saja pulang dari kencan pertamanya dengan seorang bartender yang ia temui di acara 4daagse Nijmegen kemarin. Jitske kemudian bergabung di ruang TV saat mendengar kedatangan Sanne.

Sambil bercengkrama, Sanne memakan jeruknya. Sedangkan aku, baru saja kuhabiskan sebuah mandarin yang kubeli tadi sore di supermarket. Manis juga rasanya. Sambil tetap berbagi kisah hari ini, kurasakan sensasi dingin di kakiku. Kukira, mungkin itu nasi yang tercecer saat aku makan dengan sayur sop malam ini. Kuambil si nasi tercecer itu dan kuletakkan di piring bekas makanku yang kini berisikan kulit-kulit mandarin.

Rupanya si nasi bukanlah nasi. Saat kuselidik, bentuknya seperti donat dan ia tampak hidup. Sontak aku melonjak dari kursi malasku. Kutunjukkan si "bukan nasi" kepada Sanne dan Jitske. Sanne bilang, "itu caterpillar". Kemudian kami setuju untuk memberinya nama Catherine (dibaca Katarina), Catherine si caterpillar. Kami pun setuju untuk mengembalikan Catherine ke alam luas. Semoga ia bisa menjadi kupu-kupu cantik. Sampai jumpa Catherine!

Selasa, 23 Juli 2013

Ramadhan 1434 H - Day 14

Yahoo, karena gak ada ide untuk blog hari ini, aku mau share video yang kubuat tentang perjalanan kawan-kawanku saat berkunjung ke Nijmegen. Alhamdulillah, sejak punya gaji tetap bulanan, aku jadi bisa nabung dan beli gadget-gadget asyik. Jadinya, bisa bikin fancy video deh :D

Senin, 22 Juli 2013

Ramadhan 1434 H - Day 13

Banana Cake dan Banana Muffin




Pulang dari rumah maktjik, aku dioleh-olehi banyak makanan. Mulai dari mpek-mpek sampai cane-durian ala maktjik. Kubawa juga 4 buah pisang yang sudah super matang. Akhirnya, kuputuskan untuk membuat cake pisang.

Kucari-cari resep cake pisang di internet. Umumnya, hanya 2 buah pisang dipakai untuk satu adonan kue. Karena aku punya 4 pisang yang harus diolah, akhirnya aku ber-improvisasi mencari resep muffin pisang. Wah, jadinya buanyak juga. Sampe ngabisin setengah kilo gula pasir dan 1 kilo tepung terigu :D





Resep-resep dari banana cake dan banana muffin -ku ini bisa dilihat di blog-ku, CupStories:
- Resep BANANA CAKE 
- Resep BANANA MUFFIN

Minggu, 21 Juli 2013

Ramadhan 1434 H - Day 12

Pasar Ramadhan di Dortmund

Dalam kunjungan ke rumah maktjik kali ini, kami menyempatkan mampir ke Pasar Ramadhan di Dortmund yang digelar oleh komunitas Turki. Cukup menarik juga pasar nya, seperti bazaar Ramadhan di Indonesia lah. Dengan biaya masuk 1 Euro saja, kita sudah bisa larak-lirik jilbab, rok dan baju lebaran. Selain itu, ada panggung hiburan dan atraksi anak juga. Makanan pun berlimpah disana. Makanan khas Turki tentunya. Mulai dari kebab sampai baklava tersedia disana. Asiik :D

Snapshots dari pasar Ramadhan di Dortmund. 

Sabtu, 20 Juli 2013

Ramadhan 1434 H - Day 11

Jalan-jalan ke Cologne 

Di hari ini aku menyempatkan jalan bersama sahabatku, sebut saja maktjik. Maktjik adalah temanku sejak kuliah S1, S2 sampai sekarang kami sama-sama merantau di benua Eropa. Kalau aku di Nijmegen, maktjik menjalankan studinya di Bochum, Jerman. Tujuan wisata kami adalah ke Cologne, kota wisata cukup terkenal di Jerman yang berjarak tempuh sekitar 2 jam dari rumah maktjik di Bochum.

Cuaca hari itu sangatlah panas, sekitar 35 C mungkin di Cologne. Walau panas-panasan sambil shaum panjang, tetap aja kami semangat berjalan-jalan di kota Cologne. Tapi, dengan alasan suhu panas yang takutnya bikin super haus, jadi rajin keluar masuk toko ber-AC sambil larak-lirik belanjaan. Selain itu, asik juga kita duduk-duduk di pinggir sungai Rhein :D

Berkah Ramadhan (1)
Beli cherry untuk buka puasa di mamang-mamang yang rupanya juga seorang muslim yang berasal dari Syria. Dapet bonus lagi cherrynya, nambah jadi 150% nih. Cherry ini kami sebut cherry Benetton karena sang cherry ditenteng di dalam tas kertas dari Benetton selama perjalanan sampai di rumah.  

Berkah Ramadhan (2)
Kata mamang cherry, "Bentar lagi, ada deh yang bagi-bagi Al-Quran". Eh, beneran deh. Gak lama kemudian, muncullah serombongan aa-aa remaja mesjid (ini sebutan dari kami) menawarkan Al-Quran. Langsung deh maktjik semangat membelinya karena isinya adalah terjemahan Al-Quran dalam bahasa Jerman. Maklum harganya sangatlah murah, hanya 1 Euro sebuah. Beli 2 deh si maktjik. Sebetulnya kita beli ini dari aa-aa remaja masjid yang guanteng, bule bermata Hijau :D Sayang gak sempat foto dengannya :(

Oia, simak juga perjalanan POPO-BEAR di Cologne lewat blog-nya, Popobear Around the World


Jumat, 19 Juli 2013

Ramadhan 1434 H - Day 10

4daagse Feesten di Nijmegen

Setiap tahunnya, acara 4daagse feesten digelar di Nijmegen. Mengusung jargon "The walk of the world", acara ini digelar selama 4 hari berturut-turut. Untuk tahun ini, acara 4daagse dilaksanakan sejak tanggal 16 sampai 19 July. Apa sih 4daagse ini? Intinya, acara marching jalan kaki selama 4 hari berturut-turut, dengan panjang jalur 30, 40 atau 50 km setiap harinya. Kategorinya ada dua, kategori untuk militer (biasanya mereka marching sambil memakai seragam militernya), dan kategori umum. Baik kategori militer maupun umum, partisipan acara ini berasal dari berbagai negara lho.

Snapshots dari acara hari terakhir 4dagse tahun ini. 

Di hari terakhir digelarnya acara ini, aku menyempatkan berkunjung ke centrum dimana garis finish berada. Secara sedang shaum dan suhu udara yang super panas, sekitar 30 derajat, ditambah dengan berjubelnya orang di TKP, hanya sedikit foto yang dapat kutangkap. Tapi turut senang dan cape juga melihat orang-orang yang berhasil menyelesaikan misinya berjalan kaki ratusan kilometer selama 4 hari berturut-turut :)

Keterangan lanjut tentang acara 4daagse: 
- Official website untuk 4daagse
- Wiki tentang 4daagse

Kamis, 18 Juli 2013

Ramadhan 1434 H - Day 9

Buka puasa hari ini pake menu spesial ta'jilnya. Aku sempat masak es bul-bul, walau hanya nanas saja isinya. Maklum, pepaya dan bengkuang sulit didapat, dan labu siam mahal harganya. Kebetulan lagi musim nanas disini karena memang kita sedang di puncaknya musim panas di Eropa. Jadi banyak sekali nanas impor dapat ditemukan di supermarket. Berikut kutuliskan langkah-langkah membuatnya.


Cara membuat es bul-bul Nanas

1. Mengupas nanas


Setelah menunggu nanas yang kubeli di supermarket matang selama sekitar 1 minggu, akhirnya kukupas juga si nanas. Memang mengupas nanas cukup sulit. Tapi, berbekal pengetahuan yang didapat dari seringnya jalan-jalan di pasar untuk nemenin bunda belanja bahan makanan (apalagi saat bulan Ramadhan dan menjelang lebaran), berhasil juga kukupas sang nanas. 


2. Merebus potongan nanas + gula pasir + kayu manis


Setelah nanas dikupas, kemudian dipotong-potong menjadi potongan kecil. Setelah itu potongan nanas direbus bersama dengan gula pasir dan kayu manis. Kayu manis ini yang membuat wangi es bul-bul asoy banget. Pokoknya, gak sah kalau gak ada kayu manis. Rebus nanas selama kurang lebih 20 sampai 30 menit. 



3. Sajikan saat dingin


Setelah direbus, tiriskan nanas. Tunggu sampai menjadi dingin, kemudian masukkan ke dalam kulkas. Atau, kalau sudah gak sabar untuk menyantap sang es bul-bul, boleh langsung campur es batu. Duh, segarnya. Apalagi di udara panas begini :)





Aaah, membuat es bul-bul nanas sendiri, rupanya bisa mengobati sedikit rasa kangenku terhadap rumah. Juga rasa kangen terhadap es bul-bul buatan bunda. Hmm, mudah-mudahan puasa tahun depan bisa menikmati es bul-bul khas bundaku. Amien. 

Begini warna-warninya es bul-bul khas bundaku.
Selain nanas, pepaya, labu siam dan bengkuang juga mewarnai es bul-bul mantap ini.